Cara Memodif Dan Merakit Tamiya

PERMAINAN mobil-mobilan atau miniatur mobil memang biasanya menjadi kegemaran anak-anak. Dari mulai mobil yang harus digerakkan sendiri memakai batere, sampai yang menggunakan kontrol jarak jauh.

Untuk anak-anak, permainan itu memang cukup bisa membuat mereka bersenang-senang. Namun, bila
tujuannya lebih dari bersenang-senang, orang dewasalah yang lebih banyak mengambil kendali permainan itu.

Contohnya saja permainan mobil miniatur yang lebih sering disebut tamiya. Istilah itu memang kurang tepat karena merupakan nama sebuah perusahaan di Jepang yang berdiri sejak tahun 1946 dengan pimpinnya bernama Shunsaku Tamiya.
Namun, karena perusahaan pembuat mobil miniatur itu memang berdiri sudah cukup lama dan produknya pun menyebar di berbagai negara di bumi ini, istilah tamiya pun sering dipakai untuk menyebut mobil miniatur meski hal itu bukan tamiya.

Di Bandung dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia seperti Jakarta, Semarang, Depok, Bekasi, Yogyakarta, Surabaya, Lampung, dan lainnya, orang-orang dewasa memang semakin banyak yang menggemari permainan tamiya. Bukan untuk sekadar bersenang-senang, tapi juga untuk menguji kemampuan mengulik mesin sehingga meski mobilnya kecil tapi bisa bergerak dengan cepat.

Harun (54) adalah salah satunya. Ia bahkan termasuk generasi pertama pemain tamiya di Indonesia yaitu sejak tahun 1987. “Saat itu mulai banyak anak-anak yang bermain tamiya, termasuk anak saya. Saya dan orang tua lain hanya melihat-lihat. Akan tetapi namanya juga anak-anak, mereka main sebentar lalu mobilnya ditinggal. Nah, jadinya orang tua yang ‘panasan’ ikut memainkan mobil-mobilan itu,” katanya menceritakan proses awal bergelut dengan mobil jenis mini 4WD itu.

Kebanyakan pemain tamiya yang dewasa juga memulainya karena melihat anaknya bermain-main atau karena sejak kecil dibelikan orang tuanya sehingga hobi itu terbawa sampai dewasa.

Misalnya Ferry T. B. (27), seorang wiraswasta di Bandung yang menjadi pemimpin tim Bemperz. Awalnya, ia hanya membantu merakitkan tamiya yang baru dibeli ayahnya untuk sang adik. Karena sadar bisa merakit tamiya, ia pun selalu ingin membeli produk itu sampai akhirnya mulai tahun 1997 sudah bisa membeli dengan uang sendiri.

**

SAAT orang dewasa mulai bermain tamiya, tentunya kesenangan dan kepuasan yang dituntut dari permainan itu bertambah. Mobil pun bukan sekadar yang penting jalan, tapi dipakai balapan untuk mengadu kecepatan, kelincahan, kestabilan, dan sebagainya seperti balapan mobil sesungguhnya.

“Bentuknya sekarang memang tidak sesuai dengan kit dari pabriknya. Sebagian besar part dimodifikasi sendiri. Jadi beda jauh lha kemampuannya dengan yang dimainkan anak-anak,” ujar Harun yang biasa dipanggil Abah.

Tuntutan peningkatan kemampuan itu diakui Abah karena hadiah yang diperoleh dari suatu perlombaan. Di tingkat daerah, tamiya race biasanya memberikan total hadiah belasan juta. Dalam kejurnas, angka itu meningkat sampai di atas Rp 50 juta.

Kejurnas itu sendiri biasanya digelar dua bulan sekali dengan penyelenggara yang berbeda-beda dan berganti-ganti daerah. Menurut Ferry, penyelenggara lomba tamiya race itu biasanya adalah tim tamiya dari suatu daerah yang ingin menyelenggarakan lomba di daerahnya. Namun, ada juga pertandingan yang digelar setiap tanggal 18 Februari oleh Abah Harun karena itu adalah hari ulang tahunnya.

Karena tuntutan untuk menjadi yang paling andal dalam suatu pertandingan, kegiatan mengulik dan memodifikasi mobil itu pun menjadi sesuatu yang lebih penting dari sekadar hadiah. Bila mobilnya sering menjadi pemenang, pemain tamiya dan timnya pun akan lebih disegani.

Kreativitas dan uji kemampuan mengulik mesin ini akhirnya menjadi bagian penting dari kepuasan pemain tamiya yang dewasa. “Memang senang saat bersaing di antara teman-teman. Kita membuat dan menampilkan hasil rakitan sendiri dan ternyata lebih bagus dari yang lain. Itu kepuasannya,” kata Abah.

Begitu pula yang dirasakan Bayu Purbo Agung (26), wiraswasta asal Bandung yang juga pemain tamiya dan memiliki track di kawasan Ujungberung. Momen-momen membuat mesin yang cocok untuk track balap adalah yang dianggapnya seru.

“Main tamiya itu bukan cuma soal mobil tok. Kita harus bisa membuat mesin yang cocok tapi bukan berarti harus selalu kencang. Jadi, nggak asal merancang mobil karena tantangannya adalah bagaimana membuat mobil dengan presisi yang tepat. Itu kepuasannya,” kata Bayu.
MESKI hobi itu sudah bisa diperlombakan dan merangsang dari segi hadiah, tapi jumlah pemain tamiya tidak bertambah dengan pesat. Harun mengatakan, peminat memang bertambah apalagi saat liburan sekolah. Namun, setiap pertandingan ternyata yang muncul adalah muka-muka yang masih sama.

“Sekarang kondisinya memang lagi menurun. Pemain lama masih tetap eksis, tapi pemain baru kurang,” ucap Bayu. Menurut dia dan juga Ferry, hal itu mungkin disebabkan kurangnya sarana permainan tamiya yang terbuka untuk publik.

Sekira tahun 1993, track tamiya itu tersedia di Bandung Indah Plaza dan bertahan kurang lebih dua tahun. Pada tahun 1997, track pun tersedia di salah satu toko buku di Bandung dan timbul-tenggelam sampai akhirnya benar-benar tidak ada lagi.

Tahun 2003, track yang terbuka untuk umum pun tersedia di Plaza Dago tapi bertahan tidak sampai dua tahun. Tim tamiya bernama Luki pun akhirnya menyediakan track di Plaza Parahyangan pada tahun 2004 dan tutup pada tahun 2006. Sekarang, track yang bisa dipakai umum itu hanya ada di kawasan Ujungberung yang dikelola Bayu dan rekan-rekannya.

Untuk menarik pemain-pemain baru, Bayu pun mempersilahkan track-nya dimainkan oleh para pemula yang belum bisa men-setting mobilnya. “Kalau ketemu dengan yang jago saat langsung pertandingan, mereka pasti minder dan akhirnya nggak meneruskan. Saya juga pernah dalam posisi itu sehingga pemain baru harus dikasih banyak kesempatan latihan,” katanya. (Vebertina Manihuruk/”PR”)



share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by akbar malik, Published at 15.41 and have